PETA JALAN KRISIS SAMPAI 2050, DAN APA YANG TIDAK TERLIHAT DI LAYAR

Sebuah podcast berdurasi satu jam memaparkan ramalan ekonomi Indonesia yang sangat spesifik. Menarik untuk disimak — dan penting dibaca dengan kepala dingin.

PETA JALAN KRISIS SAMPAI 2050, DAN APA YANG TIDAK TERLIHAT DI LAYAR

Di studio The Samuel Chris Show, seorang pria bercelana bolong duduk berhadapan dengan hostnya. Celana itu ia beli tahun 2000, sudah dua puluh enam tahun umurnya, dan lubangnya ditambal seharga sepuluh ribu rupiah. Ia menyebutnya kenang-kenangan dari perjalanan ke Amerika, tempat ia pernah berbicara dengan seorang profesor di Texas tentang sesuatu yang waktu itu belum ada namanya: kecerdasan buatan dan komputasi kuantum. Tidak ada yang percaya, katanya. Sekarang semuanya kejadian.

Daud Tony datang membawa apa yang ia sebut penglihatan tahun 1996, dan selama satu jam berikutnya ia membentangkan sebuah peta jalan yang tidak abstrak sama sekali. Ada tahunnya, ada angkanya, bahkan ada titik lokasinya di peta. Tahun ini, katanya, titik terberat bukan di bulan-bulan yang sedang berjalan, melainkan Oktober — akumulasi dari perang Iran dan harga minyak yang naik sejak awal tahun. Lalu 2027 ekonomi mulai bergerak sedikit, hasil seleksi alam dari mereka yang berhasil bertahan di 2026. Kemudian 2028 datang dan semuanya turun lagi, karena tahun politik selalu punya cara sendiri membuat orang menahan uang. Di 2029 ekonomi bergerak kembali, tapi dengan alasan yang ia sebut apa adanya: pesta rakyat, bagi-bagi duit. Dan justru dari sanalah masalahnya. Terlalu banyak uang beredar, dan di 2030 Indonesia mulai masuk hiperinflasi.

Gambaran yang ia berikan tentang 2030 cukup untuk membuat siapa pun diam sejenak. Uang satu miliar rupiah yang dipegang hari ini, katanya, di 2030 nilainya tinggal setara seratus juta. Angkanya tetap satu miliar di buku tabungan, tapi yang bisa dibeli tinggal sepersepuluh. Gaji UMR yang hari ini masih bisa menghidupi satu keluarga dengan pas-pasan — suami bekerja, istri di rumah mengurus anak — di 2030 tidak lagi cukup. Suami istri harus sama-sama bekerja. Lalu anak-anak bagaimana, tanya hostnya. Tidak ada jawaban untuk itu.

Dari ekonomi, obrolan bergerak ke wilayah yang lebih gelap. Menurut Daud Tony, sejak 1996 ia melihat para peretas dunia dikumpulkan di satu tempat di Amerika untuk menyerang sebuah sistem, sementara sebuah mesin mempelajari setiap cara yang mereka gunakan. Dari situ, katanya, lahir AI hacker. Yang sekarang terjadi baru uji coba. Yang sesungguhnya menunggu di 2032, ketika komputer kuantum diaktifkan. Cara kerjanya ia jelaskan seperti operasi intelijen, bukan seperti pencurian: AI itu menyamar sebagai aplikasi, masuk ke jaringan server, turun ke bank sentral, menyebar ke perbankan, jaringan seluler, laptop, lalu diam. Dua sampai tiga tahun lamanya ia hanya duduk di dalam sistem tanpa berbuat apa-apa. Baru setelah semuanya dikuasai, timer-nya berbunyi. Kripto, katanya, akan selesai secara bertahap sejak titik itu, karena dunia terpaksa kembali ke yang fisik. Emas, perak, tanah, sertifikat di atas kertas, akta jual beli yang disimpan notaris. Bagian ini ia bawa lebih jauh lagi ke tafsir kitab Daniel dan Wahyu, lengkap dengan klaim tentang siapa yang berdiri di balik teknologi tersebut — sebuah keyakinan pribadi yang tidak bisa diverifikasi dan menyentuh wilayah yang sensitif, dan sebaiknya diperlakukan sebagai itu, bukan sebagai analisis geopolitik.

Setelah 2032 ada 2035, tahun ketika ia melihat krisis air dimulai. Alasannya justru masuk akal secara teknis: pusat data di seluruh dunia butuh pendinginan, dan pendinginan butuh air. Data center masa depan, katanya, akan banyak dibangun di pinggir laut supaya air asin bisa diubah jadi air tawar untuk mendinginkan mesin. Sebenarnya kita sudah mulai merasakannya sekarang, ia menambahkan, buktinya kita minum air yang harus dibeli. Di tahun yang sama ia melihat robot menggantikan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar. Dan di 2050, robot itu tidak lagi bekerja untuk manusia.

Yang menarik, di tengah semua itu Daud Tony justru menolak ikut panik soal rupiah. Orang ribut dolar dua puluh ribu, katanya, padahal 2026 tidak sebanding dengan 1998. Waktu itu rupiah jatuh dari sekitar dua ribu tujuh ratus ke lima belas sampai enam belas ribu, pelemahan ratusan persen, disertai suku bunga dua puluh persen dan gelombang kebangkrutan. Sekarang, dari empat belas atau lima belas ribu ke delapan belas ribu, belum menyentuh lima puluh persen. Demo pun berbeda karakternya — dulu bisa meletus begitu saja, sekarang lokasi dan izinnya sudah terkondisikan lebih dulu. Untuk menjatuhkan seorang presiden, katanya, ada syarat-syarat yang harus terpenuhi, dan koalisi yang ada sekarang membuat itu tidak mudah. Lagipula, kalaupun jatuh, siapa penggantinya, dan apa bedanya kalau seluruh dunia memang sedang susah bersama-sama.

Saran bertahannya sendiri terdengar konservatif dan sebagian besar wajar. Pertahankan bisnis yang sudah jalan. Jangan buru-buru mengundurkan diri dari pekerjaan karena mencari yang baru semakin sulit. Kembali ke tanah — berkebun, ternak ayam petelur, apa saja yang membuat perut aman. Gunakan resesi sebagai kesempatan melihat di mana kebocoran perusahaan berada. Dan simpan sebagian nilai dalam emas dan perak fisik, bukan untuk mengejar untung tapi untuk menahan nilai. Untuk pemerintah, usulannya bahkan cukup teknokratis: impor satu pintu, di mana seluruh pengurusan dokumen dipusatkan dalam satu sistem digital alih-alih ditangani orang per orang, dengan pengawasan tiga lembaga dan masa transisi tiga bulan agar rantai pasok industri tidak kacau, ditambah aturan perampasan aset bagi pejabat yang terlibat.

Di sinilah pembaca perlu berhenti sebentar dan melihat apa yang tidak muncul di layar. Sepanjang episode, nasihat membeli emas dan perak fisik itu diselingi promosi berulang untuk toko emas dan perak milik hostnya sendiri, lengkap dengan tautan pemesanan di deskripsi video. Itu tidak otomatis membuat sarannya keliru, tapi konflik kepentingannya nyata dan pantas diketahui. Lebih dari itu, angkanya sendiri tidak sejalan dengan narasinya. Emas diprediksi naik dari sekitar Rp2,3 juta per gram hari ini menjadi Rp3,25 juta pada 2030 — kenaikan sekitar empat puluh satu persen dalam empat tahun, atau kira-kira sembilan persen setahun. Itu angka yang wajar, bahkan konservatif, dan sama sekali tidak cukup untuk melindungi seseorang dari hiperinflasi yang katanya menggerus daya beli sampai sembilan puluh persen. Dua klaim itu tidak bisa benar bersamaan.

Beberapa detailnya juga meleset. Sosok yang disebut sebagai Godfather of AI yang keluar dari timnya karena merasa sedang menciptakan sesuatu yang salah adalah Geoffrey Hinton, yang mundur dari Google pada 2023. Usianya sekitar tujuh puluh delapan tahun, bukan hampir sembilan puluh, dan ia adalah pelopor deep learning, bukan pendiri kecerdasan buatan dalam arti harfiah. Peringatan otoritas keuangan Eropa terhadap seratus sepuluh bank soal serangan berbasis AI disebut tanpa sumber sama sekali. Dan klaim bahwa saham akan rontok di Mei–Juni lalu naik kembali, yang dirayakan sebagai bukti ketepatan, adalah prediksi jangka pendek dengan peluang benar yang secara statistik cukup besar. Ramalan yang meleset jarang diingat siapa pun; yang kena akan diceritakan berkali-kali. Itu bias yang sangat manusiawi, dan sangat memengaruhi cara kita menilai kredibilitas seseorang.

Yang tersisa setelah semua itu justru nasihat yang membosankan dan sudah lama diketahui: punya dana darurat, jangan resign tanpa rencana, sebar aset ke beberapa keranjang, dan jangan taruh seluruh tabungan di satu instrumen. Emas memang punya rekam jejak panjang sebagai penahan nilai, dan porsi lima sampai lima belas persen dari portofolio adalah rentang yang umum disarankan perencana keuangan — bukan seluruh isi rekening. Yang tidak masuk akal adalah menjual aset produktif, menguras tabungan, atau membongkar rencana hidup karena sebuah gambaran tentang tahun 2050.

Sedia payung sebelum hujan memang bijak. Tapi memborong payung untuk badai yang dijadwalkan turun dua puluh empat tahun lagi adalah cerita yang sama sekali berbeda.

Sumber : Daud Tony Ramalkan Indonesia Sulit Ekonomi Sampai Tahun 2030! - YouTube

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow