PEMIMPIN KRISTEN SERUKAN DOA DAN BANTUAN BAGI KORBAN BANJIR BANDANG NEPAL–TIBET

PEMIMPIN KRISTEN SERUKAN DOA DAN BANTUAN BAGI KORBAN BANJIR BANDANG NEPAL–TIBET

KATMANDU — Sejumlah pemimpin gereja dunia menyampaikan belasungkawa dan menyerukan doa bagi korban banjir bandang yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026. Bencana itu menewaskan ratusan orang dan membuat ratusan lainnya dinyatakan hilang.

Banjir datang mendadak dan menyapu rumah warga, ruas jalan, serta jembatan di kedua sisi perbatasan. Sejumlah turis, peziarah, dan penduduk setempat masih belum ditemukan hingga laporan ini disusun. Bencana tersebut diduga dipicu runtuhnya sebagian gletser yang melepaskan arus air, lumpur, dan material batuan ke permukiman di lembah.

Uskup Agung Canterbury Sarah Mullally menyatakan dirinya mendoakan keluarga korban serta mereka yang masih menunggu kabar. Ia juga menyebut tim penyelamat bekerja dalam kondisi yang sangat sulit, dan mendoakan korban luka bersama tenaga medis yang menangani mereka.

Paus Leo XIV menyampaikan dukacita mendalam melalui telegram yang ditandatangani atas namanya oleh Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin. Dalam pesan itu, Paus mendoakan keluarga yang berduka serta tim pencarian dan penyelamatan, dan menyatakan kedekatan rohaninya dengan warga terdampak.

Penginjil asal Amerika Serikat, Franklin Graham, mengajak umat Kristen mendoakan warga kawasan itu dan keluarga yang masih menanti kabar kerabat mereka. Ia menggambarkan rekaman bencana yang beredar sebagai pemandangan yang mencekam.

Gereja Katolik di Nepal disebut tengah menyiapkan respons darurat. Administrator apostolik vikariat Nepal, Rm. Silas Krishna Bogati, menyatakan gereja bersama lembaga kemanusiaan Caritas sedang mendata kebutuhan warga terdampak sebelum menyalurkan bantuan.

Kepada media Katolik Crux Now, Rm. Bogati menyampaikan bahwa 25 keluarga Katolik di wilayah terdampak dilaporkan selamat. Namun seorang imam, Rm. James Britto, terjebak setelah menyeberangi sungai untuk memimpin Misa dan tidak dapat kembali ke stasi misinya karena jalan dan jembatan rusak. Menurut Rm. Bogati, jumlah korban di wilayah itu sangat besar.

Hingga berita ini diturunkan, jumlah korban meninggal dan hilang masih dapat berubah seiring berlanjutnya operasi pencarian. Belum ada keterangan resmi dari otoritas Nepal maupun Tiongkok yang dimuat dalam laporan awal ini.

Source: Christian Today, 27 August 2026, citing Crux Now.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow