TANGIS YANG TIDAK TERDENGAR

TANGIS YANG TIDAK TERDENGAR

Saat hati mulai menjauh, kejatuhan jarang terlihat sebagai sesuatu yang tiba-tiba. Ia tidak datang seperti badai yang langsung merobohkan, melainkan seperti arus pelan yang membawa kita semakin jauh tanpa terasa. Semua bermula dalam hal-hal yang tampak kecil. Pikiran yang dibiarkan mengembara tanpa penjagaan. Doa yang mulai terlewat karena merasa masih ada waktu nanti. Hati yang diam-diam merasa cukup kuat, seolah kedekatan dengan Tuhan tidak lagi menjadi kebutuhan mendesak.

Sering kali kita melihat seseorang jatuh lalu bertanya dalam hati, bagaimana itu bisa terjadi. Namun jika kita mau jujur, kisah itu tidak hanya berbicara tentang mereka. Ia berbicara tentang kita semua. Setiap manusia memahami tarikan halus dari keinginan yang tidak terlihat oleh orang lain, pergumulan yang hanya diketahui oleh hati sendiri.

Ada masa ketika hati mulai berbisik bahwa kita berbeda, bahwa kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kita memandang dari jauh dan merasa aman. Justru di titik itulah bahaya mulai berakar. Kesombongan tidak selalu muncul sebagai sikap yang terang-terangan. Ia hadir sebagai rasa percaya diri yang perlahan tidak lagi bersandar pada Tuhan. Kita mulai melangkah dengan kekuatan sendiri dan mengendurkan kewaspadaan. Tanpa disadari, kompromi menjadi lebih mudah.

Di sisi lain, kesibukan sering terlihat seperti sesuatu yang mulia. Hari dipenuhi tanggung jawab, pelayanan berjalan, pekerjaan terselesaikan. Dari luar semuanya tampak baik. Namun di dalam, ada ruang kosong yang tidak diakui. Doa menjadi sekadar singkat. Firman hanya disentuh sebentar. Kita berkata bahwa nanti akan ada waktu khusus untuk kembali mendekat, tetapi nanti itu terus bergeser. Hubungan dengan Tuhan tidak retak karena satu keputusan besar, melainkan karena banyak keputusan kecil yang terus diabaikan.

Perlahan, terang yang dulu begitu jelas mulai meredup. Dunia menawarkan banyak hal yang tampak tidak berbahaya, dan sedikit demi sedikit standar hati berubah. Apa yang dulu terasa mengganggu kini terasa biasa. Kepekaan memudar. Kita mulai memberi alasan untuk hal-hal yang sebenarnya perlu ditinggalkan. Di kedalaman hati, suara lembut yang mengingatkan tetap ada. Bukan soal apakah kita mendengarnya, melainkan apakah kita memilih untuk menanggapinya.

Ada pula kejatuhan yang berawal dari relasi yang tampak wajar. Percakapan yang terasa nyaman. Perhatian yang memberi rasa dimengerti. Kedekatan yang terlihat tidak berbahaya. Namun hati manusia mudah tertipu oleh perasaan. Ketika batas tidak dijaga, pintu terbuka bagi luka yang dalam. Sering kali kesadaran datang ketika jarak yang ditempuh sudah terlalu jauh untuk diabaikan.

Di dalam setiap diri ada bagian yang rapuh. Luka lama yang belum sembuh. Keinginan yang belum sepenuhnya diserahkan. Kelelahan yang dipendam tanpa diungkapkan. Jika bagian ini tidak dibawa kepada Tuhan, ia akan mencari jalan keluar sendiri. Dan jalan itu jarang membawa ketenangan sejati.

Berjalan sendirian dalam perjalanan rohani juga membawa risiko yang tidak kecil. Tanpa seseorang yang cukup dekat untuk bertanya dengan tulus tentang keadaan hati, kita mudah menyembunyikan pergumulan. Dosa senang tinggal dalam ruang yang gelap dan tertutup. Ketika dibawa ke dalam terang melalui kejujuran, kekuatannya berkurang. Kerendahan hati untuk terbuka menjadi perlindungan yang nyata.

Ada hari-hari ketika rasa lelah terasa begitu berat. Saat usaha seolah tidak terlihat, dan hati mulai berkata bahwa kita pantas memberi kelonggaran pada diri sendiri. Perasaan berhak sering menjadi pintu masuk bagi keputusan yang keliru. Namun Tuhan tidak pernah luput melihat kesetiaan yang tersembunyi. Ia memperhatikan air mata yang tidak diketahui orang lain.

Jika hari ini hati terasa jauh, mungkin ada perasaan bersalah yang muncul. Mungkin ada pergumulan yang disimpan rapat. Mungkin ada rasa seperti berdiri di tepi jurang. Namun Tuhan bukan Pribadi yang menunggu untuk menjatuhkan hukuman. Ia menunggu untuk memulihkan. Pertobatan bukan sekadar pengakuan kesalahan, melainkan langkah pulang kepada kasih yang tidak berubah. Datang apa adanya, tanpa alasan dan tanpa pembelaan, sambil berkata dengan jujur bahwa kita membutuhkan-Nya.

Memang ada konsekuensi dalam kehidupan. Namun kasih karunia Tuhan selalu lebih besar daripada kegagalan manusia. Di tangan-Nya, hati yang retak tidak dibuang. Ia dirawat dan dipulihkan.

Kejatuhan tidak harus menjadi akhir. Setiap hari membawa undangan baru untuk kembali, menjaga hati, dan berjalan dekat dengan Tuhan bukan karena rasa takut, tetapi karena kasih. Pada akhirnya, setiap kita berdiri di persimpangan yang sama. Apakah akan terus berjalan sendiri, atau memilih untuk kembali melangkah bersama Dia.

Sumber : 7 things that cause Christian leaders to fall

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow